“di halaman, kutemukan guguran bunga jambu. sebagai rindu yang runtuh dari hatimu.”
Category Archives: puisi kita
semacam galau
malam semakin matang, dan kabar tentangmu kian remang-remang
karna jarak yang tak bersahabat, biar doadoamu saja yang mendekapku erat
dari subur bumi katamu, aku menggali makna cinta yang tak berkesudahan
aku lupa rasanya merindu, sejak namamu bersanding di samping namaku
membencimu adalah jalan terakhir yang kupilih, untuk mengobati rindu yang mengaduh lirih
lewat doadoamu sayang, aku terjaga dari tidur yang melalaikan
telah kusiapkan bahuku untuk menampung gerimis yang berjatuhan dari matamu
biru itu matamu, yang menatapku sendu hingga waktu seakan membeku
engkau membagi jarak dan aku mengalikannya dengan rindu yang lebih lapang
matamu telaga bening yang tak pernah kering, di kedalamannya hatiku terjaring
genggam tanganNya lebih erat, kala rindu menyiksamu hingga sekarat
kau datang menawarkan cinta yang sederhana, aku menyambutnya dengan memberi pengabdian sepenuh jiwa
di tanganmu tergenggam dua mata belati yang bersiap menikam jantungku dengan sunyi, dua kali
kepada eL
kepada eL
telah rekah dalam dadaku sekuntum rindu
bermekaran ia dalam lembaran-lembaran merah jambu
rindu,
hanya kata itu yang kau tintakan dengan penamu
lalu ia menjelma merah yang merekah di kedua pipiku
patahkan, patahkan duri-duri yang mengelilingi tembokku
biar kuhitung wangi yang terhidu dari tiap rekah kelopaknya
agar sempurna ia sebagai mekarnya bunga
agar saat jarak terbentang menganga
ada yang membisiki telingaku dengan doa-doa
