“setangkai bunga dari kekasih adalah taman,” kataku.
“seorang kamu adalah dunia,” katamu.
-huruf kecil-
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
~SDD
satu -
“aku ingin egois, untukku saja!” katamu sambil memasukkan anak rambut yang menyembul dari jilbabku.
dua -
“episode tentang kamu dan aku sudah berakhir. sekarang saatnya episode tentang kita” katamu saat membuka album pernikahan kita.
tiga -
“selalu ada alasan untukku tersenyum sepagi ini, seperti membaca pesanmu yang penuh puisi gombal” katamu di gagang telepon pagi tadi.
pagi, cantik! sesekali ingin juga menyapa dari rumah berlumut merah jambu :p
lihatlah di beranda, ada dedaun jatuh berserak sebagai serpihan rindu yang ingin kusapu.
jelang siang, tjintah! percuma kau sapu dedaun itu karena ia akan terus berguguran layaknya rindu yg tak tahu malu. #tsaaah ;d
apakah perlu kusulut api, agar ia hanya menyisa abu?
abu itupun akan lesap bersama tanah yang kan menyuburkan rindu dedaun pada embun.
jadi lebih baik kubiarkan ia terus bertumbuh, mengakar dari ketabahan tanah, merimbun keikhlasan dedaun, meski pada akhirnya akan jatuh oleh angin yang sama yang membisikkan kata-kata berbeda
“kenangan bukanlah rumah tempat kau kembali pulang, sayang. ia hanyalah persinggahan saat kau lelah dengan kenyataan.”
~ajeng
“dengarlah risik angin di daun bambu, ia adalah getar rinduku kepadamu, yg dikekalkan batu-batu di dasar sumur waktu.”
~Soni Farid Maulana
mengepaklah
meski dengan sayap-sayap patah
meski berdarah-darah
meski lelah bertambah-tambah
pergilah
lanjutkan hidupmu
tersenyumlah
Ia mencintaimu lebih dari yang kau perlu
#edisipatahhati
jika suatu hari nanti engkau benar-benar pergi, aku tak takut kehilanganmu, sungguh. karena jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan hati untuk melepas genggaman tanganmu.
jika suatu hari nanti engkau benar-benar pergi, akan aku antar engkau dengan senyuman terbaik, agar semakin mantap langkahmu, keluar dari pintu hatiku.
jika suatu hari nanti engkau benar-benar pergi, aku pun tak tahu sampai kapan kekosongan jiwa ini akan terlengkapi.
jika suatu hari nanti engkau benar-benar pergi, aku pun tak sampai hati menghapus begitu saja sebaris nama yang sempat mengisi ruang-ruang sepi.
jika suatu hari nanti engkau benar-benar pergi, aku pun harus segera berbenah, membereskan kepingan duka yang retak berserak.
jika suatu hari nanti engkau benar-benar pergi, jika itu yang terbaik bagiku dan bagimu, maka pergilah. biarkan kenangan itu mengunjungiku sejenak saat aku rindu.
jika suatu hari nanti engkau benar-benar pergi, sepertinya saat itu akan tiba sebentar lagi.